Malam kedua di jogja dan besok aku harus mengakhiri kisah
perjalananku di kota romantis ini, entahlah rasanya sungguh berat. Mungkin
karena terlalu lelah sehingga baru jam 07.00 malam febby sudah lelap, aku meninggalkan
nya dia sendirian di kamar hotel. Aku ingin menikmati sendiri malam terakhirku
di kota ini. Sungguh aku sendiri sangat tak mengerti mengapa kota ini bak sihir
yang membuatku jatuh cinta selalu dengan nya.
Langkahku tepat pada monumen tugu jogja, aku berjalan
sendirian sambil menikmati suasana malam jogja, ditemani dengan alunan musik
dari para musisi jalanan. Suara ini sangat khas dan ini yang selalu tidak bisa
ku lupakan dari kota ini, alunan tembang dipadu dengan alunan suara musisi
jalanan yang ramai, cahaya lampu jalan yang kekuningan sangat romantis sekali.
Berada pada salah satu angkringan, aku duduk sambil
mengamati para musisi jalanan yang dengan gembira bersenandung melantunkan
suara-suara indah khas jogja. Momen seperti ini yang selalu membuat perasaanku
menjadi sangat tenang dan lupa dengan segala yang akhir-akhir ini terjadi
padaku.
“minum?” tiba tiba ada seseorang yang menyodorkan minuman
mineral di depan wajahku persis dan sontak aku menoleh dan melihatnya. Dia
lagi? Kenapa harus dia lagi tuhan? Aku harus apa ini? Dalam hati aku terus
bicara seperti itu. Aku sangat bingung mau gimana apakah harus lari dan
meninggalkan nya? Atau harus menerima air minum itu dan berpura-pura its okay?
“kamu apa kabar? Uda lama ya kita gak ketemu?” senyuman
kecil diberikan nya padaku namun aku masih belum bisa menjawabnya. Rasanya
seluruh tubuhku seperti besi yang kaku tak bisa bergerak, tak bisa membuka
mulut. Seperti melihat setan, dan ini menurutku lebih dari sekedar melihat
setan dan aku masih belum bisa menoleh untuk melihatnya.
“kamu ke kota ini juga ternyata, kamu sama siapa kesini?
Sendirian? Mana pacar mu? Tenyata km masih cinta kota ini juga ya” banyak
pertanyaan yang dia ajukan namun aku masih belum bisa menjawab nya.
“ndah.....” lambaian tangan nya didepanku membuyarkan
lamunanku, dan pelan pelan aku mulai bisa membuka mulutku.
“hmm, makasih tawaran minum nya aku gak haus dan urusan aku
kesini sama siapa itu bukan urusan mu, kamu gak perlu tau. Maaf aku harus balik
ke hotel” dan aku beranikan diri untuk meninggalkan nya, namun baru beberapa
langkah dia sudah menghampiriku dan berada didepanku tepat.
“ndah... kita masih bisa berteman kan? “ perkataan nya itu
selah membuatku berfikir jika dia memberikan sedikit celah untuk ku. Namun
setelah aku pikir aku takkan tertipu dengan nya untuk kesekian kalinya lagi.
Aku hanya mengangguka kepala dan pergi menghindar dari nya. Sepanjang jalan ku
kembali ke penginapan aku terus memikirkan hal yang barusan saja terjadi, dan
bertanya-tanya kemana perempuan itu? Kenapa dia tak ada di samping nya? Ah
sudahlah tidak seharusnya aku mencoba memikirkan nya kembali.
..........
to be continue :)
YOGYAKARTA #4
Share







0 komentar:
Posting Komentar
Kritik dan Saran Anda sangat membantu, Trimakasih :)