Rabu, 01 Februari 2012

"tuhan, aku cinta dia"











“LALU KAMU ANGGAP APA AKU SELAMA INI!” nadaku semakin tinggi, disertai gerimis yang sedari tadi menemani ku dan dia di atas perkebunan teh.

Dia tak menjawab pertanyaanku, dia hanya memberiku pelukan yang sangat erat bersandar dibahu ku. Aku tau dia menangis aku mengerti dia menyesal atas semuanya. Tapi tetaplah sudah beribu ribu kali dia memberiku seperti ini selalu dan selalu. Hanya hujaman penghianatan yang selalu di hadiahi padaku. Aku sudah sangat cukup menerima dan sabar menghadapi ulahnya yang selalu saja bermain di belakangku. Tetapi kali ini sangatlah tidak bisa di maafkan beribu ribu kali bahkah sejuta kali atau mungkin tak terhitung sudah berapa kali dia memberiku rinai airmata yang setiap gelap datang selalu menjadi mendung tak berawan dimataku, itu semua karena dia.

Sebut saja dia “Aldy” seorang pemuda yang rajin beribadah, baik, tampan, sering menyakiti hatiku, mempermainkan ku. Tetapi terlepas dari itu semua aku sangat amat menyayanginya. aku mencintainya melebihi dari yang dia tau. Tapi kejam nya nasib perjalanan cintaku selalu di penuhi kendala tak semulus dan selancar jalan tol yang bebas hambatan. Aku mengerti hidup tak lepas dari masalah memang. Selama 2tahun menjalin pertemanan dan selama 5tahun menjalin hubungan yang intens “relationsip”  awalnya manis semanis gula. Namun semakin jauh melangkah dan lebih jauh melangkah semakin tak berasa atau semua. Semacam nasi yang tak ada rasanya yah seperti itu.
“Jangan lupa sholat” dia menhampiriku yang sedari tadi aku sibuk menyelesaikan tugas di perpustakaan kampus. Aku tak menghiraukan nya karena aku tau ini hanya akal akalan dia saja untuk bisa merayuku memaafkan nya. Aku tak seperti wanita wanita yang dengan mudah nya kau tipu dengan segala tipu daya nya. “marah? Jelek tauk!” sambil mempencet hidungku sakit! “kamu maunya apasih udah ah pergi!” aku meninggalkan nya sendirian dan mencari tempat yang lebih jauh. Aku pikir dia benar benar akan meminta maaf padaku tapi tolol! Dia pergi! Sudahlah mungkin memang lebih baik aku tak mendekat padanya.

“gita!” suara itu sangat kurindukan sudah selama 1 minggu ini dia tak bersamaku. Tak saling berhubungan, tak saling menemui, tak saling bersapaan.
Aku melihat dia sedang berlari kecil menghampiriku, aku tak mau melihat dia lagi rasanya sakit itu datang lagi jika aku melihatnya. Langkahku berat, disisi lain aku sangat teramat merindukan nya. Perasaan rinduku nampaknya melebihi rasa sakitku.
“tunggu dulu sayang” sambil menarik lenganku
“gak usah bilang sayang lagi! Kalau kamu tetap selalu menyakitiku!”
“aku akan jelasin semuanya, temuin aku di taman biasanya jam 7 aku tunggu!” nadanya seolah serius sekali. Aku hafal betul sikapnya yang seperti ini.
                                                                                      ***
Detik jam tanganku terus berjalan, sudah sedari satu jam  aku disini. Memang aku sengaja datang lebih awal kerena entah mengapa aku sangat amat bersemangat menemuinya. Walaupun sakit itu sudah terlalu sering aku rasakan. Suara jangkrik mulai terdengar dan udara semakin dingin, awan semakin pekat, hampir saja aku meninggalkan tempat itu tetapi tanganku di tarik olehnya. Aldy mengajaku duduk dan matanya seolah menjelaskan sesuatu yang tak aku ketahui.
“sekarang kamu mau apa?”  aku mengawali pembicaraan karena aku tak ingin berlama-lama berada disini. Semakin lama aku semakin tak bisa menahan perasaanku. “gausah bertele tele langsung aja to the point! Aku sibuk banyak tugas!” dia semakin menatapku dengan sorotan mata yang penuh makna, sebenarnya akupun ingin membalasnya tetapi mimpi rasa sakitku yg tlah dia goreskan tak mampu membuatku berani menatapnya. “hey! Gausah diem aja!” lambaian tanganku di wajahnya membuyarkan lamunan nya. Tak sepatah katapun yang dia ucapkan hanya memandangiku saja sedari tadi. “BAWEL” lagi lagi dia mempencet hidungku!aah

“aku tak ingin melewatkan sedetikpun moment seperti ini dan aku tak ingin melepaskan pandanganku dari wajahmu, aku juga tak ingin melepaskan genggamanku di tanganmu”  sorotan nya mulai tajam dan perlahan kami saling berpandangan. “git, taukah sudah berapa lama kita tak saling bertemu? Aku kangen sangat kangen. Aku tau kamu pasti juga kan? Gag perlu kamu jawab matamu sudah mewakili segalanya” dia semakin meyakinkan ku dan kini aku mulai berani menatapnya. “ git, aku mencintaimu dan sangat menyayangimu. Kamu sudah mengerti bagaimana aku dan sebaliknya aku mengerti bagaimana kamu. Maafkan aku git, aku menyesal aku salah”  kata katanya seolah langsung menusuk di bagian terdalam hatiku dan berdebar.

“udah ngomong nya?  Aku pulang dulu banyak tugas!” jawabanku memang ketus, tapi sungguh aku tak ingin seperti itu. Aku pergi meninggalkan nya di tengah dingin nya malam itu sendirian. Aku tak bermaksut cuek tapi aku hanya ingin apakah dia benar benar sungguh ingin berubah.
                                                                                ***

Angin membelai rambut ku sehelai demi sehelai, jendela kamarku sengaja aku buka  agar pelan pelan angin membekukan hatiku! Aku benci seperti ini! Tak tau harus kemana dan bagaimana! Serbuk serbuk cahaya bintang yang biasanya aku lihat kini tak memunculkan sedikitpun. Mungkin mereka tau jika  hatiku saat ini sedang redup sangat redup. Seolah sinar rembulan menisyaratkan sesuatu di balik kabut mendung yang menyelimutinya.  Aku masih ingat aldy pernah bilang “kamu dan aku seperti bintang itu” dia sambil menunjuk satu bintang yang sinarnya sangat indah dan tajam. Entahlah sekarang dimana keberadaan bintang itu.
Yah setelah lama kupikirkan memang mungkin dia benar benar menunjukan perubahan nya. Dia kini sering menjadi alarm ibadahku, dimana saatnya sholat dia slalu mengingatkan nya. Itulah mengapa aku sangat sulit melepaskan dia. Hanya aldy yang mampu mengerti aku, fikiran nya tlah selaras denganku, disetiap perhatian kecilnya slalu indah dimataku sedikitpun tak ada yang kecil tentang dia. “kemana dia?”  kucari aldy sampai keujung kampus tak kutemui batang hidungnya yang pesek yang sering aku pencet jika dia bandel. Mungkin saat seperti itulah yang kini kurindukan.
“aldy!” buku buku yang sedari tadi kupegang jatuh tak beraturan, tanganku sangat lemas, tubuhku bergetar, keringat dingin mulai kurasakan, bibirku mengkerut. Seolah tak ingin aku melihatnya jika akhirnya hasil yang sangat amat menyiksa kudapatkan lagi. Bangunkan aku pliss! Ini hanya mimpikah? Tak mungkin! Dalam hatiku seolah berlomba lomba menangkis kenyataan yang sedang aku lihat itu. Adegan dengan mesranya bersandar dibahu seseorang yang “mungkin” bukan miliknya dan perhatian lembut, dan kecupan di kening seseorang yang bukan miliknya kurasa. Ohh bagaimana mungkin aku mempercayai ini semua, terlalu kejam!

“gita!” yah aldy kaget dan melepaskan pelukan seorang cewe yang entah itu siapa lagi yang dia rayu.
Sejuta kali aku menahan agar ombak airmata tak turun, aku tak mau terlihat lemah di depan nya. “LANJUTKAN! Maaf ganggu!”  mungkin lebih baik aku tak mempercayai nya! Yah entalah semacam gadis bodoh yang terus mengharapkan seseorang yang sangat di cintainya tetapi na’as nya dia “mungkin” tak pernah sama sekali mencintaiku seperti aku yang selalu menyayanginya, memperdulikan nya. Lalu ap hubungan yang selama 5tahun itu? Lelucon kah? Atau hanya permainan? Hahah! Stupid! Kemana aldy yang dulu yang selalu memberiku pelukan saat ombak airmataku turun, dimana sosok seseorang yang selalu memberiku semangat saat ada banyak ujian? 2tahun terakhir sikapnya berubah seperti yang dahulunya beruang lucu manis imut baik, kini menjadi sesosok singa yang jahat, kejam, bringas, sangar! Tak tahu apa yang membuatnya berubah. Mungkin baginya aku hanya seseorang yang membosankan yaah pasti. Kenapa sekalinya aku mencintai seseorang yang mampu membuatku bahagia sebahagianya dia malah membuatku tersakiti amat sangat sakit.
                                                                                        ***

Hari  berlalu bulan berganti tahun baru mulai. Tak pernah sedetik pun aku melupakan nya, walaupun sudah 1tahun 5bulan 3hari sejak terakhir aku menemukan dia berkhianat lagi padaku tapi tetap seolah kenangan antara aku dan dia tak mau pergi, masih tertata rapi dihatiku. Dan kini jarak memisakan kita, aku tak tau dimana dia sekarang karena aku tlah berada di lingkungan baru yang sangat damai, tenang dan sejuk. Semuanya kulakukan bukan untuk menghindar dari kenyataan tetapi semuanya karena aku hanya tidak ingin jika aku hanya sebagai beban untuknya.

Langkahku masih sangat teratur menyusuri lantai rumah sakit ini. Aku mencari dimana ruangan pamanku yang sedang sakit. Saat itu pikiranku sedang kacau dan tiba tiba aku menabrak seorang wanita paruhbaya berumur sekitar 50thn. Aku mengenal beliau tampak tak asing, tetapi aku sedikit lupa siapa dia. “gita?” sambil membersihkan airmata nya dengan tisu yang sedari tadi dia genggam rapat. “tante sari?” yah aku ingat dia adalah sosok seorang yang sudah membesarkan sendirian aldy pemuda yang dulu pernah ada di kehidupanku.
“tante kenapa?” tanyaku sambil menyuruhnya duduk sejenak
“gita, kamu cantik sekali” tetap dari dulu tante sari selalu jika bertemu denganku ucapan pertama yang diucapkan hanya itu
“gita, maafkan aldy yah kalau dia sering berbuat kasar sama kamu, sering menyakiti kamu, sering bikin kamu jengkel dan marah” tatapan nya semakin sayu
“iya tante sudah aku maafkan sejak lama, dia gak pernah kasar kog dia baik walaupun agak ngeselin”
“aldy sangat sayang kamu git, kamu kemana aja selama ini? Dia butuh kamu! Cuma kamu penawar nya! Kamu kekuatan nya git! Dia menyayangimu melebihi dirinya sendiri” sambil sesenggukan. Aku semakin penaaran ada apa ini?
“sebenarnya sejak 3tahun yang lalu aldy di vonis dokter terkena kanker otak. Dan mulai saat itu hidupnya semakin tak karuan dia sering marah marah gak jelas. Dia hampir mengalami depresi, sebagian hidupnya tlah dia habiskan untuk obat. Tetapi semua itu tak sering dia konsumsi karena dia tak ingin sembuh. Tetapi sejak kamu bersamanya kamulah yang memicu dia untuk semangat sembuh. Dia lebih mendekatkan dirinya pada tuhan. Dia semangat kuliah, hariharinya sangat dia jalani dengan tanpa beban”
“lalu?”  seolah seluruh anggota badanku sangat kaku tak bisa bergerak hanya gerimis airmata yang sudah berubah menjadi mendung dan siap turun aku tahan.
“itulah sebabnya kenapa dia sering terlihat denganmu sedang jalan dengan wanita lain, itu hanya karena dia tak ingin kamu semakin mencintainya. Aldy ingin kamu menjauh darinya, dia ingin kamu menemukan sosok yng lebih berarti”
“terus mana aldy tante? Aku ingin menemuinya, aku menyesal tante” airmataku tak tertahan. Benar benar apa yang sudah aku lakukan? Membiaran seseorang yang sangat kucintai berjuang sendirian melawan penyakitnya? Bodoh tolol!
“tunggu git,tante belum selesai bicara.” Tangan nya seolah menghalangiku untuk menemuinya
“semenjak kamu pergi meninggalkan dia, penyakitnya tambah parah. Dia tak ingin minum obat dia sudah pasrah jika tuhan memanggilnya”
“kenapa dia tak menemuiku?! Kenapa dia tak cerita?! Aku sayang dia tante sangat sangat sayang!” nadaku semakin tinggi rasa kecewa bersalahku bercampur aduk menjadi satu. Bodoh! Kenapa kamu ninggalin dia sih git! Konyol! Seharusnya gag harus kamu pergi karena hal kecil!
“tenang sayang, dia ada disitu” tante menunjuk sebuah ambulance yang sudah siap membawa seorang jenazah ke peristirahatan terakhirnya.
Oh tidak kah mungkin seseorang pemuda yang sangat amat kucintai yang selalu membuat aku bahagia selalu membua semangat selalu membuatku kesal sakit hati. Kini dia sudah terbjur kaku di balik kain putih itu. Tangisan tak berhenti turun mengiringi langkahku melihatnya. Aku tak percaya ini semua bagai mimpi terburuk sepanjang hidupku yang tak ingin sama sekali ku alami. Bangunkan aku tuhan ! biarkan aku bersamanya sekali lagi! Biarkan aku menebus semua kesalahanku kepadanya! Hanya satu kata yang ingin skali ku ucapkan “MAAFKAN AKU”

Andai aku di izinkan meminta sebuah harapan aku ingin tuhan menghapus semua kesalahan kesalahan nya dan semoga dia tenng  di istana barunya. TUHAN, aku cinta dia pertemukan kita tuhan di surga nanti. Aku rela disakiti asal jangan dia yang tersakiti. J
Share
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 komentar:

Posting Komentar

Kritik dan Saran Anda sangat membantu, Trimakasih :)