Ketika seseorang tak mampu lagi berbicara, dan ketika
seseorang tak mampu menatap tajam matanya. Ketika itulah sesuatu di dalam
dirinya bergejolak tajam. Terkadang apa yang dilakukan seseorang tak sama persis dengan apa yang ada dalam
hatinya. Mulut ini memang tajam, terkadang bisa menyakiti siapa saja, dimana
saja, dan kapan saja, tak terkecuali darah dagingnya sendiri. Penemuanku untuk
beberapa hari ini memang membuktikan tak sedikit dari mereka yang masih
tersenyum lebar untuk menghargai orang yang ada di sekitarnya. Mereka mampu
menahan tajam nya mulut saat berbicara. Mereka tau bagaimana menempatkan posisi
gaya berbicara mereka yang tidak sembarangan. Adapula yang mereka sangat
terlihat tegar dengan wajah yang sumringah tetapi jika menemukan kesalahan
sekecil apapun orang lain yang di sekitarnya maka dia tak segan untuk
mengeluarkan pisau tajam nya yang mampu membuat orang itu teriris, yah apalagi
kalau mulutnya yang tak bisa memposisikan dia. Selain itu aku pernah temukan
seseorang wanita yang sederhana, terlihat ceria dan sangat beribawa. Tutur katanya
mampu membuatku tertegun melihatnya. Dia merupakan sosok seseorang yang aku
kagumi, cara dia bersilah lidah dengan orang lain sungguh sangat bijaksana. Tutur
katanya mampu memposisikan dia di level teratas menurutku. Tetapi setelah aku
dalami seorang ini ternyata, senyuman nya yang ceria berhasil menipuku. Sungguh
ternyata sangat berat jika aku harus berada diposisinya. Beban yang seberat itu
mampu dia pikul sendiri, dan dia sangat berusaha menutupi semuanya itu dengan
senyuman. Memang setinggi apapun tingkat pendidikan kita tidak bisa skaligur
mendewasakan cara tutur berbicara kita. Lingkungan dan keadaan yang sangat
berperan penting di dalam sikap, tutur kata yang kita lakukan.
Share








0 komentar:
Posting Komentar
Kritik dan Saran Anda sangat membantu, Trimakasih :)