Minggu, 24 Juni 2012

"iam okay"









Ketika seseorang tak mampu lagi berbicara, dan ketika seseorang tak mampu menatap tajam matanya. Ketika itulah sesuatu di dalam dirinya bergejolak tajam. Terkadang apa yang dilakukan seseorang  tak sama persis dengan apa yang ada dalam hatinya. Mulut ini memang tajam, terkadang bisa menyakiti siapa saja, dimana saja, dan kapan saja, tak terkecuali darah dagingnya sendiri. Penemuanku untuk beberapa hari ini memang membuktikan tak sedikit dari mereka yang masih tersenyum lebar untuk menghargai orang yang ada di sekitarnya. Mereka mampu menahan tajam nya mulut saat berbicara. Mereka tau bagaimana menempatkan posisi gaya berbicara mereka yang tidak sembarangan. Adapula yang mereka sangat terlihat tegar dengan wajah yang sumringah tetapi jika menemukan kesalahan sekecil apapun orang lain yang di sekitarnya maka dia tak segan untuk mengeluarkan pisau tajam nya yang mampu membuat orang itu teriris, yah apalagi kalau mulutnya yang tak bisa memposisikan dia. Selain itu aku pernah temukan seseorang wanita yang sederhana, terlihat ceria dan sangat beribawa. Tutur katanya mampu membuatku tertegun melihatnya. Dia merupakan sosok seseorang yang aku kagumi, cara dia bersilah lidah dengan orang lain sungguh sangat bijaksana. Tutur katanya mampu memposisikan dia di level teratas menurutku. Tetapi setelah aku dalami seorang ini ternyata, senyuman nya yang ceria berhasil menipuku. Sungguh ternyata sangat berat jika aku harus berada diposisinya. Beban yang seberat itu mampu dia pikul sendiri, dan dia sangat berusaha menutupi semuanya itu dengan senyuman. Memang setinggi apapun tingkat pendidikan kita tidak bisa skaligur mendewasakan cara tutur berbicara kita. Lingkungan dan keadaan yang sangat berperan penting di dalam sikap, tutur kata yang kita lakukan.
Share
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 komentar:

Posting Komentar

Kritik dan Saran Anda sangat membantu, Trimakasih :)