Rabu, 16 Mei 2012

LDR ???





Dan sekarang aku mengerti bahwa cinta itu tak harus memiliki. Aku rela jarak memisahkan kita walaupun setiap malam hati ini sangat dingin tanpa nya. Demi masa depan nya dan demi kebaikan aku dan dia. Keputusan orang tuanya jauh lebih di utamakan daripada harus tetap bertahan pada keegoisan kita. Bahkan kita akan tetap menjalin komunikasi. Tetapi semakin besar jarak membatasi pertemuan antara aku dan dia, semakin besar rasa keraguan muncul. Sekuat pikiran aku menahan itu semua. Dia telah berjanji dan tak akan mengingkarinya, itu katanya sebelum dia menghilang bersama keretanya. Yah mau gimana lagi, aku harus bisa menjaga hubungan kita yang sudah berbeda mulai detik ini. Semuanya itu berawal dari.



“uda siap?? Uda bawa warna apa aja??”  kata nya sambil bersiap menyalakan motornya.

“yang pasti biru warna favorite mu dan ungu kesukaanku”  lalu kami cepat bergegas menuju sekolah. Pastinya jika sudah banyak siswa yang bawa cat pilog uda tentu merayakan kelulusan.  Dan pesta pun dimulai, jalanan penuh dengan remaja SMA dan hanya dengan 15 menit baju seragam sudah penuh dengan tanda tangan + coretan dari teman-teman yang lain. Rasanya hal seperti ini sangat indah dan berkesan. Mungkin aku takkan mendapatkan nya lagi nanti. Inilah akhir dari kegembiraanku dan kenakalanku di masa SMA. Banyak orang bilang masa-masa yang paling indah dan berkesan adalah masa SMA. Aku sangat setuju dengan hal itu.  Senyuman bahagia tak pernah lepas sepanjang siang itu. Ramainya jalanan semakin membuat kita semangat untuk terus konvoi. Tetapi semua itu dilakukan dalam batasan normal. Semua nya saling bertanya akan melanjutkan kemanakah setelah SMA? Dan seperti biasa yang selalu aku bicarakan bahwa aku akan tetap mencintai kotaku surabaya, tidak akan sekolah jauh-jauh. Entah mengapa aku ingin sekali menanyakan hal itu pada rio. Yah seseorang yang sudah 2tahun berteman dan baru 8bulan ini menjalin hubungan yang lebih serius yaitu pacaran. Meskipun dia sudah berulang kali mengatakan kalau dia takkan meninggalkanku sendiri di kota ini, dia akan tetap melanjutkan kuliahnya di kota ini.

Langkahku mendekatinya dengan perlahan menembus kerumunan teman-teman nya. Saat berhenti tepat disampingnya rasanya aku sangat bahagia melihat senyum nya. Seolah aku tak ingin merusaknya, walaupun rasa penasaranku lebih tinggi.



“popo, kamu akan tetap kuliah disini kan?” tanganku menggenggam nya erat.

“iya mo, aku kan udah sering bilang kan. Ya udah masuk gih uda sore” tangan nya melepaskan genggamanku lalu dia pergi menghilang di balik jalan.

Semakin lama aku semakin sangat takut kehilangan nya. Entahlah mungkin hanya perasaanku atau memang sebuat firasat. Tetapi semuanya itu semakin meyakinkan ku bahwa dia takkan pergi. Setiap hari dia selalu hadir di pagi indahku dan sangat bisa menjaga mood ku. Selalu ada kejutan kecil detiap harinya, entah itu berupa coklat, cincin dari dahan yang dia buat sendiri atau bunga. Semuanya indah saat hariku bersamanya.



Namun inilah saatnya keraguan ku semuanya terjawab dan keyakinan yang sudah ku pupuk mulai sirna. Seminggu ini dia sedikit menghilang di hari-hariku. Entah apa yang dia lakukan, selalu saja alasan utamanya membantu orang tuanya. Yaah mungkin aku tak perlu terlalu ikut campur, tetapi dengan seribu alasan nya yang tidak masuk akal aku mencoba menerimanya dengan positif. Kerenggangan mulai terjadi di sebuah hubungan yang baru berumur jagung ini. Apakan aku akan siap menghadapi segala kemungkinan terburuk nya?? Disaat titik perasaanku berada dalam rasio aman dan berseri-seri. Sore itu dia yang sudah tiga hari tak menghubungiku dan akhirnya mengajaku untuk bertemu di taman favorite kita.



“uda lama yah?” kataku sambil mengambil hadiah untuknya yang sudah aku siapkan.

“belum”  sambil menghela nafas panjang

“po, nih aku bawain salmon rica-rica kesukaanmu. Aku masak sendiri di ajarin tante sih  hihi. Makan yuk, sini aku suapin.”

“nadia, udah cukup! Aku uda kenyang “ wajahnya terlihat serius dan tangan nya menggenggam erat tanganku.

“NADIA??, ohhh” aku sangat kaget saat dia menyebut namaku. Karena semenjak kita dekat dia selalu memanggilku nama kesanyangan nya.

“maaf, mungkin ini berat buat kamu dan aku tapi......” matanya menatap  ku dengan sorotan seolah dengan rasa bersalah.

“iyaa aku tau aku ngerti apa yang mau kamu bilang. Kamu akan kuliah di luar kota kan??  Mau orang tuamu?  Okee aku ngerti!! “ dengan membereskan tas ku lalu aku bergegas pergi meninggalkan nya.  Aku tak mau terlihat lemah di hadapan nya. Dan aku juga tak mau dia melihatku menangis. Rasanya seolah mendung dan kini sedang terjadi badai hujan deras di mataku. Semakin ku tahan semakin besar ombaknya. Entah apa yang harus aku lakukan sekarang! Haruskah aku mengubur dalam-dalam semua kenangan kita yang sudah dijalani selama 8 bulan ini?! Mudah memang mengatakan tetapi sulit dilakukan! Dia sudah memberikan pelangi indah di hariku dan semngatnya membuatku tetap tabah menjalani hariku walaupun tanpa almarhum kedua orang tuaku. Tapi salahkah aku tadi sudah meninggalkan nya sendiri di taman? Tanpa aku mendengarkan penjelasan nya??

Handphone ku yang sedari tadi berbunyi sengaja ku hiraukan. Aku terlalu sibuk dengan airmataku, dan rasanya masih belum bisa merelakan dia pergi meninggalkan aku sendiri di kota ini. Egoiskah aku?? Tetapi apakah memang cinta butuh keegoisan?. Seminggu sebelum kepergian nya melanjutkan kuliah di yogyakarta, dia selalu datang kerumahku setiap harinya berusaha menjelaskan. Tetapi selama itupula aku tak ingin menemuinya. Aku hanya menganggap bahwa dia telah mengingkari janjinya untuk bersamaku tetap di kota ini. Keinginan orangtuanya tak bisa dihalangi. Dan akupun sadar semuanya pasti tetap begini walaupun ku cegah. Saat aku tau hari ini jadwal keberangkatan dia di stasiun jam 07.00. aku langsung mengejarnya dan berusaha menemuinya. Yah walaupun untuk terakhir kalinya



“popo. . . “  panggilku sambil mengejarnya. Lalu dia mengenggam tanganku sangat erat dan tersenyum lalu berkata “kamu baik baik yah mo disini” semuanya berakhir dengan pelukan hangatnya, yang mungkin takkan bisa aku rasakan lagi.

“mo, uda jangan nangis! Hey aku Cuma kuliah disana! Bukan pindah! Aku janji akan sering main kesini lagi yah!” wajahnya  yang tanpa airmata setetespun  membuatku kembali semangat. Bahwa aku harus bisa tegar setegar dia. Aku mengerti dia sekuat tenaga menahan airmatanya jatuh di hadapanku. Sosoknya lalu menghilang bersama kereta yang mengantarkan nya menuju kota baru dan lingkungan baru.



Selama 3bulang sejak kepergian nya, aku dan dia masih sering intensif berkomunikasi. Jarak yang telah jahat memisahkan kita bukan menjadi masalah. Setiap malam aku selalu bisa menatap wajahnya walaupun dari layar laptop. Dia banyak bercerita tentang keadaan disana.

“mo, meskipun disini banyak cewek tapi tetep hatiku buat kamu yaaa” itu kata katanya yang selalu bisa membuatku semangat! Aku menghargai nya dan aku percaya dengan nya.

Semakin lama komunikasi kita semakin merenggang. Mungkin karena kesibukan kita masing-masing. Dan saat tenteku mengizinkan ku untuk ke Bandung  menemuinya dengan bekal uang tabunganku yang sudah lama ku kumpulkan untuk membeli ticket kereta. Aku sengaja tak ingin memberi tahunya tentang kedatanganku. Dan kebetulan hari itu saat aniversary ku dan dia yang baru 1thn.



“udara Bandung ini penuh cinta!” kataku dalam hati sambil menghirup nafas panjang, merasakan setiap titik hawa dingin bandung.

Aku berusaha mencari alamat kos nya yang pernah dia berikan.  Aku sangat senang menyambut hari ini. Hari sepecial akan kuhabiskan dengan orang yang special pula. Dan saat aku baru saja berada di depan pagar kos nya. Aku sedang melihat dia sedang duduk sambil memegang tangan seorang wanita cantik berambut panjang dan tentunya lebih dari aku. Pertunjukan yang sangat menyakitkan dan yang tak ingin aku lihat. Aku berusaha menghilangkan pikiran negative ku. Langkahku semakin mendekatinya, selangkah demi selangkah aku mencoba untuk berpikiran tenang bahwa mungkin dia Cuma teman!! Atau saudaranya! Dia sudah janji padaku tak mungkin mengingkarinya untuk kedua kalinya. Dia percaya padaku dan aku percaya padanya. Langkahku terhenti saat rio atau pipo panggilan kesayanganku untunknya itu melihatku. Dia berlagak selayaknya orang yang sedang berbohong, gelagatnya aneh.



“kamu inget rio? Ini hari apa?” mataku mulai berkaca-kaca

“yaa jelas mimooku sayang aniversary kita kan??” dia sambil mendekatiku dan memeluku.

“gak usah basa basi!! Aku udah tau!! Gak perlu jelasin lagi!! Yang aku tau kamu uda mengingkari janjimu untuk yang kedua kalinya! Inikah hadiah aniversary kita???”



Langsung aku meninggalkan nya. Dan lagi lagi bodohnya aku masih saja terus menangisi dia. Padahal dia sosok lelaki yang aku harapkan sudah membohongiku dua kali. LEMAH bget aku!!!! Cengeng!!! Apa ini buah dari kepercayaanku padanya?? Kesetiaanku ternyata tak berbalas. Dan cukup tau kalau memang long distance sangat amat sulit untuk dijalani! Sekalipun menanamkan rasa saling percaya. Sekalinya ingkar maka akan terulang lagi seperti itu. dan sekarang  aku harus memutar otak ku lebih keras untuk bisa menemukan cara agar aku bisa melupakab dia dan kenangan nya. Yah mungkin tak semudah ucapanku, tetapi setiap aku terus mengingatnya akan selalu membuat badai di kedua mataku. Jantungku nampaknya harus bekerja lebih keras karena setiap tetes airmataku membuat aliran udara menjadi sesak. Entahlah apakah aku bisa menjalan hidup tanpa bintang pagiku dan apakah bisa aku tertidur di malam hari tanpa matahari malamku. Bernafas tanpamu merupakan hal yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya, tetapi aku tetap akan mencobanya. Dengan segala kenangan indah yang akan ku bingkai indah dan rapi di dalam hatiku.   END
Share
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 komentar:

Posting Komentar

Kritik dan Saran Anda sangat membantu, Trimakasih :)