Dan sekarang aku mengerti bahwa cinta itu tak harus
memiliki. Aku rela jarak memisahkan kita walaupun setiap malam hati ini sangat
dingin tanpa nya. Demi masa depan nya dan demi kebaikan aku dan dia. Keputusan
orang tuanya jauh lebih di utamakan daripada harus tetap bertahan pada
keegoisan kita. Bahkan kita akan tetap menjalin komunikasi. Tetapi semakin
besar jarak membatasi pertemuan antara aku dan dia, semakin besar rasa keraguan
muncul. Sekuat pikiran aku menahan itu semua. Dia telah berjanji dan tak akan
mengingkarinya, itu katanya sebelum dia menghilang bersama keretanya. Yah mau
gimana lagi, aku harus bisa menjaga hubungan kita yang sudah berbeda mulai
detik ini. Semuanya itu berawal dari.
“uda siap?? Uda bawa warna apa aja??” kata nya sambil bersiap menyalakan motornya.
“yang pasti biru warna favorite mu dan ungu kesukaanku” lalu kami cepat bergegas menuju sekolah.
Pastinya jika sudah banyak siswa yang bawa cat pilog uda tentu merayakan
kelulusan. Dan pesta pun dimulai,
jalanan penuh dengan remaja SMA dan hanya dengan 15 menit baju seragam sudah
penuh dengan tanda tangan + coretan dari teman-teman yang lain. Rasanya hal
seperti ini sangat indah dan berkesan. Mungkin aku takkan mendapatkan nya lagi
nanti. Inilah akhir dari kegembiraanku dan kenakalanku di masa SMA. Banyak
orang bilang masa-masa yang paling indah dan berkesan adalah masa SMA. Aku
sangat setuju dengan hal itu. Senyuman
bahagia tak pernah lepas sepanjang siang itu. Ramainya jalanan semakin membuat
kita semangat untuk terus konvoi. Tetapi semua itu dilakukan dalam batasan
normal. Semua nya saling bertanya akan melanjutkan kemanakah setelah SMA? Dan
seperti biasa yang selalu aku bicarakan bahwa aku akan tetap mencintai kotaku
surabaya, tidak akan sekolah jauh-jauh. Entah mengapa aku ingin sekali
menanyakan hal itu pada rio. Yah seseorang yang sudah 2tahun berteman dan baru
8bulan ini menjalin hubungan yang lebih serius yaitu pacaran. Meskipun dia
sudah berulang kali mengatakan kalau dia takkan meninggalkanku sendiri di kota
ini, dia akan tetap melanjutkan kuliahnya di kota ini.
Langkahku mendekatinya dengan perlahan menembus kerumunan
teman-teman nya. Saat berhenti tepat disampingnya rasanya aku sangat bahagia
melihat senyum nya. Seolah aku tak ingin merusaknya, walaupun rasa penasaranku
lebih tinggi.
“popo, kamu akan tetap kuliah disini kan?” tanganku
menggenggam nya erat.
“iya mo, aku kan udah sering bilang kan. Ya udah masuk gih
uda sore” tangan nya melepaskan genggamanku lalu dia pergi menghilang di balik
jalan.
Semakin lama aku semakin sangat takut kehilangan nya.
Entahlah mungkin hanya perasaanku atau memang sebuat firasat. Tetapi semuanya
itu semakin meyakinkan ku bahwa dia takkan pergi. Setiap hari dia selalu hadir
di pagi indahku dan sangat bisa menjaga mood ku. Selalu ada kejutan kecil
detiap harinya, entah itu berupa coklat, cincin dari dahan yang dia buat
sendiri atau bunga. Semuanya indah saat hariku bersamanya.
Namun inilah saatnya keraguan ku semuanya terjawab dan
keyakinan yang sudah ku pupuk mulai sirna. Seminggu ini dia sedikit menghilang
di hari-hariku. Entah apa yang dia lakukan, selalu saja alasan utamanya
membantu orang tuanya. Yaah mungkin aku tak perlu terlalu ikut campur, tetapi
dengan seribu alasan nya yang tidak masuk akal aku mencoba menerimanya dengan
positif. Kerenggangan mulai terjadi di sebuah hubungan yang baru berumur jagung
ini. Apakan aku akan siap menghadapi segala kemungkinan terburuk nya?? Disaat
titik perasaanku berada dalam rasio aman dan berseri-seri. Sore itu dia yang
sudah tiga hari tak menghubungiku dan akhirnya mengajaku untuk bertemu di taman
favorite kita.
“uda lama yah?” kataku sambil mengambil hadiah untuknya yang
sudah aku siapkan.
“belum” sambil
menghela nafas panjang
“po, nih aku bawain salmon rica-rica kesukaanmu. Aku masak
sendiri di ajarin tante sih hihi. Makan
yuk, sini aku suapin.”
“nadia, udah cukup! Aku uda kenyang “ wajahnya terlihat
serius dan tangan nya menggenggam erat tanganku.
“NADIA??, ohhh” aku sangat kaget saat dia menyebut namaku.
Karena semenjak kita dekat dia selalu memanggilku nama kesanyangan nya.
“maaf, mungkin ini berat buat kamu dan aku tapi......”
matanya menatap ku dengan sorotan seolah
dengan rasa bersalah.
“iyaa aku tau aku ngerti apa yang mau kamu bilang. Kamu akan
kuliah di luar kota kan?? Mau orang
tuamu? Okee aku ngerti!! “ dengan
membereskan tas ku lalu aku bergegas pergi meninggalkan nya. Aku tak mau terlihat lemah di hadapan nya.
Dan aku juga tak mau dia melihatku menangis. Rasanya seolah mendung dan kini
sedang terjadi badai hujan deras di mataku. Semakin ku tahan semakin besar
ombaknya. Entah apa yang harus aku lakukan sekarang! Haruskah aku mengubur
dalam-dalam semua kenangan kita yang sudah dijalani selama 8 bulan ini?! Mudah
memang mengatakan tetapi sulit dilakukan! Dia sudah memberikan pelangi indah di
hariku dan semngatnya membuatku tetap tabah menjalani hariku walaupun tanpa
almarhum kedua orang tuaku. Tapi salahkah aku tadi sudah meninggalkan nya
sendiri di taman? Tanpa aku mendengarkan penjelasan nya??
Handphone ku yang sedari tadi berbunyi sengaja ku hiraukan.
Aku terlalu sibuk dengan airmataku, dan rasanya masih belum bisa merelakan dia
pergi meninggalkan aku sendiri di kota ini. Egoiskah aku?? Tetapi apakah memang
cinta butuh keegoisan?. Seminggu sebelum kepergian nya melanjutkan kuliah di
yogyakarta, dia selalu datang kerumahku setiap harinya berusaha menjelaskan.
Tetapi selama itupula aku tak ingin menemuinya. Aku hanya menganggap bahwa dia
telah mengingkari janjinya untuk bersamaku tetap di kota ini. Keinginan
orangtuanya tak bisa dihalangi. Dan akupun sadar semuanya pasti tetap begini
walaupun ku cegah. Saat aku tau hari ini jadwal keberangkatan dia di stasiun
jam 07.00. aku langsung mengejarnya dan berusaha menemuinya. Yah walaupun untuk
terakhir kalinya
“popo. . . “
panggilku sambil mengejarnya. Lalu dia mengenggam tanganku sangat erat
dan tersenyum lalu berkata “kamu baik baik yah mo disini” semuanya berakhir
dengan pelukan hangatnya, yang mungkin takkan bisa aku rasakan lagi.
“mo, uda jangan nangis! Hey aku Cuma kuliah disana! Bukan
pindah! Aku janji akan sering main kesini lagi yah!” wajahnya yang tanpa airmata setetespun membuatku kembali semangat. Bahwa aku harus
bisa tegar setegar dia. Aku mengerti dia sekuat tenaga menahan airmatanya jatuh
di hadapanku. Sosoknya lalu menghilang bersama kereta yang mengantarkan nya
menuju kota baru dan lingkungan baru.
Selama 3bulang sejak kepergian nya, aku dan dia masih sering
intensif berkomunikasi. Jarak yang telah jahat memisahkan kita bukan menjadi
masalah. Setiap malam aku selalu bisa menatap wajahnya walaupun dari layar
laptop. Dia banyak bercerita tentang keadaan disana.
“mo, meskipun disini banyak cewek tapi tetep hatiku buat
kamu yaaa” itu kata katanya yang selalu bisa membuatku semangat! Aku menghargai
nya dan aku percaya dengan nya.
Semakin lama komunikasi kita semakin merenggang. Mungkin
karena kesibukan kita masing-masing. Dan saat tenteku mengizinkan ku untuk ke
Bandung menemuinya dengan bekal uang tabunganku yang sudah lama ku kumpulkan
untuk membeli ticket kereta. Aku sengaja tak ingin memberi tahunya tentang
kedatanganku. Dan kebetulan hari itu saat aniversary ku dan dia yang baru 1thn.
“udara Bandung ini penuh cinta!” kataku dalam hati sambil
menghirup nafas panjang, merasakan setiap titik hawa dingin bandung.
Aku berusaha mencari alamat kos nya yang pernah dia
berikan. Aku sangat senang menyambut
hari ini. Hari sepecial akan kuhabiskan dengan orang yang special pula. Dan
saat aku baru saja berada di depan pagar kos nya. Aku sedang melihat dia sedang
duduk sambil memegang tangan seorang wanita cantik berambut panjang dan
tentunya lebih dari aku. Pertunjukan yang sangat menyakitkan dan yang tak ingin
aku lihat. Aku berusaha menghilangkan pikiran negative ku. Langkahku semakin
mendekatinya, selangkah demi selangkah aku mencoba untuk berpikiran tenang
bahwa mungkin dia Cuma teman!! Atau saudaranya! Dia sudah janji padaku tak
mungkin mengingkarinya untuk kedua kalinya. Dia percaya padaku dan aku percaya
padanya. Langkahku terhenti saat rio atau pipo panggilan kesayanganku untunknya
itu melihatku. Dia berlagak selayaknya orang yang sedang berbohong, gelagatnya
aneh.
“kamu inget rio? Ini hari apa?” mataku mulai berkaca-kaca
“yaa jelas mimooku sayang aniversary kita kan??” dia sambil
mendekatiku dan memeluku.
“gak usah basa basi!! Aku udah tau!! Gak perlu jelasin
lagi!! Yang aku tau kamu uda mengingkari janjimu untuk yang kedua kalinya!
Inikah hadiah aniversary kita???”
Langsung aku meninggalkan nya. Dan lagi lagi bodohnya aku
masih saja terus menangisi dia. Padahal dia sosok lelaki yang aku harapkan sudah
membohongiku dua kali. LEMAH bget aku!!!! Cengeng!!! Apa ini buah dari
kepercayaanku padanya?? Kesetiaanku ternyata tak berbalas. Dan cukup tau kalau
memang long distance sangat amat sulit untuk dijalani! Sekalipun menanamkan
rasa saling percaya. Sekalinya ingkar maka akan terulang lagi seperti itu. dan
sekarang aku harus memutar otak ku lebih
keras untuk bisa menemukan cara agar aku bisa melupakab dia dan kenangan nya. Yah
mungkin tak semudah ucapanku, tetapi setiap aku terus mengingatnya akan selalu
membuat badai di kedua mataku. Jantungku nampaknya harus bekerja lebih keras
karena setiap tetes airmataku membuat aliran udara menjadi sesak. Entahlah apakah
aku bisa menjalan hidup tanpa bintang pagiku dan apakah bisa aku tertidur di
malam hari tanpa matahari malamku. Bernafas tanpamu merupakan hal yang tak
pernah aku pikirkan sebelumnya, tetapi aku tetap akan mencobanya. Dengan segala
kenangan indah yang akan ku bingkai indah dan rapi di dalam hatiku. END
Share








0 komentar:
Posting Komentar
Kritik dan Saran Anda sangat membantu, Trimakasih :)