“aku sayang kamu ku mohon percayalah” pelukan nya begitu erat, aku merasakan setiap detang jantungnya seolah menandakan jika dia benar benar tulus kepadaku.
Secepatnya aku melepaskan hangat nya pelukan nya yang membuatku damai itu, aku tak ingin perasaan ini semakin dalam. Tetapi aku juga harus tetap berbakti kepada ibuku karena dia yang satu satunya aku miliki sekarang. Taukah aku sangat menyesal tidak bisa memberi apa yang kau mau, aku tidak bisa membalas perasaan mu kepadaku. Sejujurnya rasa itu sedang menggebu sangat keras di hatiku, tetapi terhalang oleh gelombang yang sangat tajam yang tak mungkin aku halangi.
“kamu dari mana kog basah gitu? Mana reno?” kata ibuku sambil meneruskan jahitan bajunya.
“aku sayang ibu” aku berikan pelukan sembari tersenyum lalu bergegas masuk kamar.
Hujan yang sedari tadi mengiringi langkahku pulang kini sudah reda, secepat itu berganti awan cerah yang seolah tersenyum padaku. Andai perasaanku sore ini secerah awan itu, andai tak ada penghalang antara kami. Mungkin saat ini hatiku sudah di tumbuhi banyak bunga yang mekar. Maafkan aku reno, gelombang penghalang itu tak dapat aku tahan aku harus terus mengikuti alur kemana gelombang itu membawaku. Aku tak ingin membuat pesahabatan kita dari kecil menjadi berantakan hanya karena soal perasaan.
Keesokan harinya aku sengaja menunggu reno di persimpangan jalan itu yang biasanya reno lewati. Mungkin keberuntungan sedang tidak memihakku saat itu, okeelah aku pergi dan berharap reno menemuiku dirumah nanti.
Setelah empat hari setelah kejadian itu, reno tak lagi menemuiku seperti biasa yang selalu kerumah dan membawakan ibuku oleh oleh makanan kecil. Aku sadar memang ini semua salahku, aku tak mengucapkan sepatah katapun saat itu dan langsung pergi meninggalkan nya. Egois memang sikapku tetapi saat itu entah mengapa aku tak bisa jika terus menatap matanya yang penuh harapan nya.
“tumben reno ga kesini na?”
“gag tau bu, “
Sejujurnya aku sangat merindukan sosoknya yang mampu membuatku bangkit di saat saat terburuku waktu itu. Saat aku melihat ayahku sendiri menyakiti ibuku dan seenaknya memngambil uang ibuku, lalu pergi begitu saja meninggalkan aku dan ibu. Saat itu aku masih berumur 10th dan disaat itu pula reno yang selalu membuat hari hariku kembali semangat. Memang aku sempat membenci yang namanya “lelaki” tetapi karena reno aku jadi bisa membuka mata tentang sosok lelaki yang tak semua selalu menggunakan kekerasan. Reno membuka mataku tentang arti kehidupan yang indah. Dari kecil kita sudah berteman sangat dekat karena dulu rumah kita berdekatan, semenjak SMA eno pergi dan menempati rumah barunya di sekitar komplek mewah di sekitar lingkungan rumahku. Aku dan reno memang berbeda, dia sudah mendapatkan ayah barunya yang baik dan bisa memberikan apapun yang dia minta.
Sedangkan aku hanya anak dari seorang penjahit yang jika ada order jahitan kita bisa makan, tetapi jika tidak yaa aku harus terpaksa berhutang di warung. Kita memang berbeda sangat berbeda, tetapi ibu tak pernah melarang aku untuk berteman kepada siapapun.
Ibuku merupakan sosok yang sangat hebat dan aku berjanji untuk takkan pernah membuat dia kesal, dan selalu memberikan rona bahagia.
Pagi ini rasanya perasaan rinduku sudah tak tertahan lagi, aku benar benar merindukan nya. Kemana dia? Maafkan aku! Perasaan merasa bersalah menyelimuti ku akhir akhir ini.
Tiba tiba ada sepucuk surat di jendela kamarku, segera aku buka apa isinya
Dear rena,
Ren, maafin aku
Aku uda salah, aku ungkapin perasaanku ke kamu. Aku mengerti kamu tak mau merusak persahabatan kita. Tapi yang harus kamu tau aku mencintaimu setulus hatiku, aku rela melakukan apapun untukmu. Sekali lagi aku minta maaf karena aku tak menemuimu akhir akhir ini, mungkin kamu menganggap aku marah? Gag ren, aku ga akan bisa marah sama kamu. Aku Cuma terlalu pengecut untuk menemuimu. Semoga kita akan selalu menjadi best friend forever, well aku uda memilih untuk kuliah di luar kota. semoga kita bisa berjumpa lagi suatu saat nanti
Your best friend, reno J
Tanpa pamitan ke ibu, aku langsung menjemput reno ke stasiun dengan mengayuh sepedaku. Memang tak jauh dari rumah, dengan di iringi cucuran air mata aku terus mengayuh. Aku tak mau kehilangan sahabatku, aku mencintainya, aku ingin bersamanya selalu.
“na” tiba tiba ada yang memanggilku dari belakang, aku kenal betul suaranya, tetapi suara bising di stasiun tak membuat jelas dimana suara itu berada.
“aku juga mencintaimu ren, aku kangen kamu, jangan tinggalin aku kumohon” pelukan ku sangat erat
“gag na aku ga bisa” sambil melepaskan pelukan ku
“maafin aku ren, aku ga maksut buat kamu marah, kecewa atau apapunlah” jelasku sambil gerimis dimata.
“PLIS NA JANGAN NANGIS! GUE BENCI!” nada reno makin tinggi
“ren aku Cuma pengen berbakti sama ibu, aku ga ingin bohongin ibu” sambil sesenggukan
“APA KARNA AGAMA KITA?”
“Ren sadar KAMU YANG UDA BUAT AKU GAG TRAUMA LAGI SAMA LELAKI! SEKARANG KAMU MAU NINGGALIN AKU GITU AJA?” sambil menganggukk pelan ku katakan pada reno tetapi tetap nadaku smakin tinggi.
“bener bener maafin aku na, aku uda janji ke papa bakalan nerusin kuliah di kota lain” sambil memegang kedua tanganku dan menatapku penuh arti
“JAHAT!” aku tak ingin semakin banyak orang orang yang melihatku di beranda stasiun itu yang sedari tadi kita di tontonin seperti sedang terjadi drama. Aku melangkahkan kakiku dengan cepat dan pulang meninggalkan nya sendiri lagi.
Sesampainya dirumah
“kenapa na? Reno ngapain kamu?” tanya ibu sambil kebingungan yang melihatku berlinang air mata.
Lalu aku berikan surat yang reno kasih tadi, ibu membacanya dan seketika itu menatapku penuh perasaan. Dan berakhir di pelukan hangatnya ibu.
“maafkan ibu, kalo aja ibu ga ngelarang kamu berpacaran dengan reno karena kalian berbeda agama” jelas ibu sambil mengusap airmataku yang sedari tadi tak mau berhenti.
“tak apa bu, semuanya sudah terjadi dan kini telah berakhir”
“ibu janji akan merestui kalian berdua, ibu takkan menghalangi kalian lagi”
“tak perlu bu, dia sudah pergi”
Dan tiba tiba lagi ada yang menjawab dari arah belakangku dan aku sangat kenal suara itu
“perlu dong, aku kan cinta kamu na” reno datang sambil membawa seikat mawar merah muda yang katanya melambangkan kekuatan cinta sejati.
Dan ternyata reno memutuskan untuk tetap bersamaku menemaniku, meskipun perbedaan agama mengalir kencang antara kita tapi aku yakin kekuatan cinta akan mengalahkan semuanya. Perbedaan memang indah bila di satukan dengan besarnya power of love. J
Share








2 komentar:
nice :)
perbedaan itu memang indah
makasiihh :)
Posting Komentar
Kritik dan Saran Anda sangat membantu, Trimakasih :)