Angin membelai rambut ku sehelai demi sehelai, jendela kamarku sengaja aku buka agar pelan pelan angin membekukan hatiku! Aku benci seperti ini! Tak tau harus kemana dan bagaimana! Serbuk serbuk cahaya bintang yang biasanya aku lihat kini tak memunculkan sedikitpun. Mungkin mereka tau jika hatiku saat ini sedang redup sangat redup. Seolah sinar rembulan mengisyaratkan sesuatu di balik kabut mendung yang menyelimutinya. Aku masih ingat aldy pernah bilang “kamu dan aku seperti bintang itu” dia sambil menunjuk satu bintang yang sinarnya sangat indah dan tajam. Entahlah sekarang dimana keberadaan bintang itu.
Yah setelah lama kupikirkan memang mungkin dia benar benar menunjukan perubahan nya. Dia kini sering menjadi alarm ibadahku, dimana saatnya sholat dia slalu mengingatkan nya. Itulah mengapa aku sangat sulit melepaskan dia. Hanya aldy yang mampu mengerti aku, fikiran nya tlah selaras denganku, disetiap perhatian kecilnya slalu indah dimataku sedikitpun tak ada yang kecil tentang dia. “kemana dia?” kucari aldy sampai keujung kampus tak kutemui batang hidungnya yang pesek yang sering aku pencet jika dia bandel. Mungkin saat seperti itulah yang kini kurindukan.
“aldy!” buku buku yang sedari tadi kupegang jatuh tak beraturan, tanganku sangat lemas, tubuhku bergetar, keringat dingin mulai kurasakan, bibirku mengkerut. Seolah tak ingin aku melihatnya jika akhirnya hasil yang sangat amat menyiksa kudapatkan lagi. Bangunkan aku pliss! Ini hanya mimpikah? Tak mungkin! Dalam hatiku seolah berlomba lomba menangkis kenyataan yang sedang aku lihat itu. Adegan dengan mesranya bersandar dibahu seseorang yang “mungkin” bukan miliknya dan perhatian lembut, dan kecupan di kening seseorang yang bukan miliknya kurasa. Ohh bagaimana mungkin aku mempercayai ini semua, terlalu kejam!
“gita!” yah aldy kaget dan melepaskan pelukan seorang cewek yang entah itu siapa lagi yang dia rayu.
Sejuta kali aku menahan agar ombak airmata tak turun, aku tak mau terlihat lemah di depan nya. “LANJUTKAN! Maaf ganggu!” mungkin lebih baik aku tak mempercayai nya! Yah entalah semacam gadis bodoh yang terus mengharapkan seseorang yang sangat di cintainya tetapi na’as nya dia “mungkin” tak pernah sama sekali mencintaiku seperti aku yang selalu menyayanginya, memperdulikan nya. Lalu apa hubungan yang selama 5tahun itu? Lelucon kah? Atau hanya permainan? Hahah! Stupid! Kemana aldy yang dulu yang selalu memberiku pelukan saat ombak airmataku turun, dimana sosok seseorang yang selalu memberiku semangat saat ada banyak ujian? 2tahun terakhir sikapnya berubah seperti yang dahulunya beruang lucu manis imut baik, kini menjadi sesosok singa yang jahat, kejam, bringas, sangar! Tak tahu apa yang membuatnya berubah. Mungkin baginya aku hanya seseorang yang membosankan yaah pasti. Kenapa sekalinya aku mencintai seseorang yang mampu membuatku bahagia sebahagianya dia malah membuatku tersakiti amat sangat sakit.
***
Hari berlalu bulan berganti tahun baru mulai. Tak pernah sedetik pun aku melupakan nya, walaupun sudah 1tahun 5bulan 3hari sejak terakhir aku menemukan dia berkhianat lagi padaku tapi tetap seolah kenangan antara aku dan dia tak mau pergi, masih tertata rapi dihatiku. Dan kini jarak memisakan kita, aku tak tau dimana dia sekarang karena aku tlah berada di lingkungan baru yang sangat damai, tenang dan sejuk. Semuanya kulakukan bukan untuk menghindar dari kenyataan tetapi semuanya karena aku hanya tidak ingin jika aku hanya sebagai beban untuknya.
Langkahku masih sangat teratur menyusuri lantai rumah sakit ini. Aku mencari dimana ruangan pamanku yang sedang sakit. Saat itu pikiranku sedang kacau dan tiba tiba aku menabrak seorang wanita paruhbaya berumur sekitar 50thn. Aku mengenal beliau tampak tak asing, tetapi aku sedikit lupa siapa dia. “gita?” sambil membersihkan airmata nya dengan tisu yang sedari tadi dia genggam rapat. “tante sari?” yah aku ingat dia adalah sosok seorang yang sudah membesarkan sendirian aldy pemuda yang dulu pernah ada di kehidupanku.
“tante kenapa?” tanyaku sambil menyuruhnya duduk sejenak
“gita, kamu cantik sekali” tetap dari dulu tante sari selalu jika bertemu denganku ucapan pertama yang diucapkan hanya itu
“gita, maafkan aldy yah kalau dia sering berbuat kasar sama kamu, sering menyakiti kamu, sering bikin kamu jengkel dan marah” tatapan nya semakin sayu
“iya tante sudah aku maafkan sejak lama, dia gak pernah kasar kog dia baik walaupun agak ngeselin”
“aldy sangat sayang kamu git, kamu kemana aja selama ini? Dia butuh kamu! Cuma kamu penawar nya! Kamu kekuatan nya git! Dia menyayangimu melebihi dirinya sendiri” sambil sesenggukan. Aku semakin penaaran ada apa ini?
“sebenarnya sejak 3tahun yang lalu aldy di vonis dokter terkena kanker otak. Dan mulai saat itu hidupnya semakin tak karuan dia sering marah marah gak jelas. Dia hampir mengalami depresi, sebagian hidupnya tlah dia habiskan untuk obat. Tetapi semua itu tak sering dia konsumsi karena dia tak ingin sembuh. Tetapi sejak kamu bersamanya kamulah yang memicu dia untuk semangat sembuh. Dia lebih mendekatkan dirinya pada tuhan. Dia semangat kuliah, hariharinya sangat dia jalani dengan tanpa beban”
“lalu?” seolah seluruh anggota badanku sangat kaku tak bisa bergerak hanya gerimis airmata yang sudah berubah menjadi mendung dan siap turun aku tahan.
“itulah sebabnya kenapa dia sering terlihat denganmu sedang jalan dengan wanita lain, itu hanya karena dia tak ingin kamu semakin mencintainya. Aldy ingin kamu menjauh darinya, dia ingin kamu menemukan sosok yang lebih berarti”
“terus mana aldy tante? Aku ingin menemuinya, aku menyesal tante” airmataku tak tertahan. Benar benar apa yang sudah aku lakukan? Membiarkan seseorang yang sangat kucintai berjuang sendirian melawan penyakitnya? Bodoh tolol!
“tunggu git,tante belum selesai bicara.” Tangan nya seolah menghalangiku untuk menemuinya
“semenjak kamu pergi meninggalkan dia, penyakitnya tambah parah. Dia tak ingin minum obat dia sudah pasrah jika tuhan memanggilnya”
“kenapa dia tak menemuiku?! Kenapa dia tak cerita?! Aku sayang dia tante sangat sangat sayang!” nadaku semakin tinggi rasa kecewa bersalahku bercampur aduk menjadi satu. Bodoh! Kenapa kamu ninggalin dia sih git! Konyol! Seharusnya gag harus kamu pergi karena hal kecil!
“tenang sayang, dia ada disitu” sorotan matanya mengarah ke sebuah ambulance yang sudah siap membawa seorang jenazah ke peristirahatan terakhirnya.
“GAK! Jangan bercanda tante, serius! Aldy mana! Gak mungkin. . . . “ seolah darah yg sedang mengalir di seluruh tubuhku penuh dengan rasa bersalah yang amat besar. Tante tak menjawab hanya menganggukan kepalanya sambil mulai gerimis airmata turun di wajahnya. Pacar macam apa aku! Kejam! Aku hanya bisa berkrtir dalam hati “aku yang salah seharusnya aku yang kau ambil tuhan!”
Oh tidak kah mungkin seseorang pemuda yang sangat amat kucintai yang selalu membuat aku bahagia selalu membua semangat selalu membuatku kesal sakit hati. Kini dia sudah terbjur kaku di balik kain putih itu. Tangisan tak berhenti turun mengiringi langkahku melihatnya. Aku tak percaya ini semua bagai mimpi terburuk sepanjang hidupku yang tak ingin sama sekali ku alami. Bangunkan aku tuhan ! biarkan aku bersamanya sekali lagi! Biarkan aku menebus semua kesalahanku kepadanya! Hanya satu kata yang ingin skali ku ucapkan “MAAFKAN AKU”
Andai aku di izinkan meminta sebuah harapan aku ingin tuhan menghapus semua kesalahan kesalahan nya dan semoga dia tenang di istana barunya. Aku rela disakiti asal jangan dia yang tersakiti. J
Share








3 komentar:
ngegalau terus nih kayaknya ! :D keren sis , semangat trus ya buat bikin postingan yang lebih keren lagi ! horas :D
terharuuuuu :(
bagus loh ndut ini cerpen mu, kereeen suer. ikutin lomba!
cuma kamu mesti kalo nulis speeling nya di perhatiin lagi ta.
Posting Komentar
Kritik dan Saran Anda sangat membantu, Trimakasih :)